Sejarah Nagari

SEJARAH NAGARI PAKANDANGAN

Sebelum kita mengkaji asal usuk Nagari Pakandangan ini, sebaiknya ditinjau dulu cerita atau legenda Enam Lingkung yang sebelumnya, dengan istilah ‘sabalun alun barabalun alun ba toboh pakandangan, alun basintuak lubuk aluang, alun ba koretaji, alun lai ba tiku pariaman, alun lai ado korong jo kampuang, baiak dusun jo taratak maupun desa jo nagari samaso itu disabuik toboh’ apa yang dinamakan toboh adalah sekelompok orang atau masyarakat yang hidup rukun dan damai walaupun penduduk masih hidup primitive tapi kompak dalam mencari makan dari hasil yang ditanam dari umbi-umbian serta hasil buruan binatang, burung dan ikan meskipun belum tahu halal dengan yang haram tapi sudah kenal bergotong  royong dengan suatu toboh yang satu dengan lainnya.

Daerah Enam lingkung berasal dari 9 (sembilan)buah toboh yakninya ialah 1. Koto gadih 2. Koto Tuo 3. Pauah, 4. Lundang Bajawek 5. Kiambang 6. Lubuak Batuang 7. Gantiang 8. Sungai Asam. 9.Jo koto tinggi yang kesemuanya berada di tepi sungai atau batang air, daerah ini dikuasai oleh 2 orang Rajo (Raja). Raja pertama bernama Rajo Padang Manggih yang berkedudukan di Koto Tinggi dan Kedua Rajo Gudangga yang berkedudukan di ampang sipinang ludang bajawek tepatnya lokasi pembangunan kantor Bupati yang baru, dari kehidupan kedua orang raja ini timbul pertengkaran dan perselisihan yang tak kunjung selesai laksana ombak perang dengan pantai, oleh karena itu dijemputlah orang yang arif bijaksana yang mungkin bisa menyelesaikan pertengkaran yang tempatnya dekat lubuak surau berok dan disanalah suatu BUEK yang dikandangan artinya Buek nan Bakarang (  Kesepakatan yang dirancang) bisa diselesaikan dengan cara bermusyawarah dilokasi inilah letak lasuang (Lesung) tigo satuangan diatas Lubuk 2 Batingkah tanjuang tigo manjorok sampai sekarang melambangkan tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan yaitu unsur pemerintahan, unsur adat dan unsur agama. Sampai sekarang unsur yang tiga ini tak bisa dipisahkan atau jalan sendiri yang tetap berpedoman kepada adat “basandi syara’ syara’ basandi kitabullah, adat manurun syara’ mendaki. Oleh karena ditempat ini dapat buek yang dikandangkan untuk menghentikan perselisihan kedua raja tersebut, maka disinilah dapat kata asal Pakandangan.

Kemudian berdasarkan aspirasi anak Nagari dalam rangka meningkatkan pelayanan pada masyarakat dan efektifitas pelaksanaan pembangunan dengan membawahi lima Korong. Untuk menumbuh kembangkan semangat bernagari dan mengembalikan historis serta menyempurnakan tatanan adat salingka Nagari.

Sistim Pemerintahan Nagari Pakandangan pada saat ini masih mungacu pada peraturan derah no. 05 tahun 2009 tentang pokok -pokok pemerintahan Nagari. Namun demikian dari perkembangan sejarah, diketahui bahwa pemerintahan Nagari Pakandangan sudah dimulai sejak tahun 1885. Periode pemerintahan Nagari ini berlangsung sampai tahun 1983 selama kurun waktu ini Nagari Pakandangan mengalami beberapa periode kepemimpinan. Sehubungan pemberlakukan undang-undang no 05 tahun 1979 tentang pemerintah Desa maka dilingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Korong sebagian dari Nagari menjadikan Pemerintah Desa, yang selanjutnya setelah pemetaan maka Nagari Pakandangan terdapat lima buah Korong yaitu;

  1. Korong Pasa Pakandangan
  2. Korong Sarang Gagak
  3. Korong Tanjung Aur
  4. Korong Ringan-Ringan
  5. Korong Kampung Paneh

Seiring diberlakukan undang-undang no 22 tahun 1999 tentang pemerintahan Daerah, maka Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat menindak lanjuti dengan membuat peraturan Daerah no.02 tahun 2007 tentang ketentuan pokok Pemerintahan Nagari, langkah ini diikuti oleh Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Barat termasuk Kabupaten Padang Pariaman.

Pelaksanaan sistim Pemerintahan Nagari di Kabupaten Padang Pariaman di wakili dengan pemberlakukan peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman No. 02 Tahun 2009 tentang Pemerintahan Nagari. Kembali kesistim Pemerintahan Nagari di Pakandangan di awali dengan pembentukan Nagari Pakandangan pada tanggal 22 Oktober 2001 dengan Pejabat sementara (Pjs) Wali Nagari Azwar Manan. Kemudian dilakukan pemilihan Wali Nagari defenitif untuk masa bakti 2002/2007 dan melalui proses pemilihan yang demokratis, sehingga Azwar Manan akhirnya terpilih menjadi Wali Nagari Pakandangan.

Sehubungan dengan berakhirnya masa jabatan Azwar Manan sebagai Wali Nagari Pakandangan pada tahun 2007 maka pada bulan agustus tahun 2008 telah dilakukan pemilihan Wali Nagari untuk masa jabatan 2008-2014 dan terpilih Musa Karim sedangkan untuk periode 2015-2021  yang terpilih adalah Drs. Nasyaruddin ,Pelantikan Nagari dilakukan oleh Bupati Padang Pariaman.